Follow by Email

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 05 September 2011

Kisah Hamzah Bin Abdul Muthallib

Hamzah bin Abdul Muthallib, merupakan paman sekaligus saudara susuan Rasulullah. Hubungan Hamzah bin Abdul Muthallib dengan Rasulullah bukan hanya sekadar antara paman dan keponakan, melainkan juga antara dua orang sahabat. Karena keduanya berasal dari satu generasi dengan umur yang berdekatan. Mereka berdua tumbuh bersama, bermain bersama, saling senda gurau bersama, dan berjalan bersama dari satu jalan ke jalan yang lain,. Namun arah hidup keduanya amat berbeda di masa mudanya.

Hamzah bin Abdul Muthallib adalah anak dari Abdul Muthallib dan ibunya bernama Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul Muthallib dan Abdullah bin Abdul Muthallib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib.

Hamzah bin Abdul Muthallib sangat sayang kepada Rasulullah, pada suatu hari ada seorang budak yang mengatakan bahwa keponakannya telah di caci maki dan diperlakukan tidak manusiawi oleh Abu Jahal. Mendengar perkataan itu Hamzah bin Abdul Muthallib langsung tanpa pikir panjang hendak mencari Abu Jahal, setelah melihatnya Hamzah bin Abdul Muthallib mendekati Abu Jahal, lalu diangkat busur panah dari punggungnya dan langsung di pukulkan ke kepala Abu Jahal hingga dia berdarah. Kemudian Hamzah bin Abdul Muthallib dengan suara yang lantang berkata di hadapan Abu Jahal dan pembesar kaum Quraisy “Apakah kamu mencaci maki Muhammad? Padahal aku adalah pengikutnya. Aku katakan apa yang dia katakan. Camkan itu baik-baik! Ulangilah kepadanya jika kamu mampu”. Memang Hamzah bin Abdul Muthallib sangat sayang kepada keponakannya; yaitu Rasulullah.

Sesampainya di rumahnya, Hamzah bin Abdul Muthallib berpikir ulang apa yang dikatakan tadi di dekat Ka’bah. Dia berpikir ini bisa terjadi, bagaimana mungkin seseorang meninggalkan agama nenek moyangnya yang di anut sejak lama. Tiba-tiba di pikirannya tebersit rasa penyesalan tentang apa yang di ucapkan tadi. Akan tetapi, Hamzah bin Abdul Muthallib kembali meneruskan pengembaraan akalnya. Namun, ketika dia menyadari bahwa dengan akal saja dia tidak cukup mencari kebenaran yang hakiki, lalu dia pergi di dekat Ka’bah berdoa meminta kepada Yang Maha gaib dengan keikhlasan dan sangat khusyuk, supaya nantinya mendapatkan kebenaran dan jalan yang lurus.

Hamzah kemudian masuk Islam dengan penuh keyakinan. Allah memperkuat keislaman Hamzah. Islamnya Hamzah merupakan benteng kaum muslimin dan perisai. Sejak Hamzah bin Abdul Muthallib masuk Islam dia berdiri bagaikan benteng dan membela Rasulullah dan para sahabat yang dihina. Dia pun bertekad untuk menyerahkan seluruh kehidupan dan raganya kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka dengan keberanian dan selalu membentengi Rasulullah, Hamzah kemudian di beri gelar oleh Nabi yaitu “asadullah wa asadu rasulihi – Singa Allah dan Singa Rasulallah”. Bahkan Hamzah oleh Baginda Nabi diserahkan bendera Islam pertama untuk di kibarkan dalam pertempuran.

Pada perang Badar, Hamzah melakukan kehebatan yang luar biasa dalam memerangi musuh-musuhnya membuat para sahabat berdecak kagum dan kaum Quraisy kembali ke Makkah dengan membawa kekalahan dan kegagalan yang memalukan. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya

Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthallib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di ambil serta akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam kesumat, karena suaminya terbunuh dalam perang Badar.


Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Hamzah bin Abdul Muthallib berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin. Dia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang berupaya menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.

Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rasulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.

Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh Islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut.

Sementara itu, Washyi bin Harb menyelinap dari bala tentara Islam dengan maksud mencari Hamzah bin Abdul Muthallib. Setelah ketemu Washyi kemudian menombak Hamzah tepat di dadanya. Melihat itu, Hamzah lalu mengejar Waishyi namun tidak bisa, karena lukanya yang cukup para lalu dia jatuh dan menjadi syuhada di perang Uhud.

Setelah peperangan usai Rasulullah dan para sahabatnya yang masih hidup memeriksa jasad dan tubuh para kaum muslimin yang gugur, betapa kagetnya mendapatkan jasad Hamzah bin Abdul Muthallib jasad dan dadanya robek serta mengambil hatinya, sehingga Rasulullah meneteskan air mata menandakan luka yang amat sangat dalam. Seraya Rasulullah berkata “Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini”.

Setelah itu Rasulullah dan para kaum muslimin menshalatkan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu per satu. Pertama Hamzah bin Abdul Muthallib dishalatkan terlebih dahulu, lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk dishalatkan, sementara jasad Hamzah bin Abdul Muthallib tetap dibiarkannya di tempatnya. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Hamzah bin Abdul Muthallib tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Hamzah bin Abdul Muthallib. Maka kalau dihitung Rasulullah dan para sahabat menshalatkan Hamzah bin Abdul Muthallib sebanyak tujuh puluh kali.

Sejarah Hamzah bin Abdul Muthallib merupakan pelajaran kepada umat Islam untuk dijadikan contoh, bagaimana Hamzah bin Abdul Muthallib mencintai Rasulullah SAW, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri. Bagaimana Hamzah bin Muthallib berperang melawan musuh-musuh Islam dengan kematian yang tidak wajar dengan dada yang robek lalu hatinya diambil dan dimakan oleh Hindu. Ini suatu pemandangan indah yang telah diabadikan oleh takdir dengan pemotretan yang amat baik dan penjagaan yang bertanggung jawab, untuk menghilangkan kedukaan semua pihak. Terutama kedukaan Rasulullah SAW. atas kematian pamannya Hamzah bin Abdul Muthallib, singa Allah dan singa Rasul-Nya , pahlawan para syuhada.

0 komentar:

Posting Komentar